"Proses Transportasi Bahan Galian Tambang"
Sumber gambar: Wallpaper Vista

Minevesting / January, 5th 2022

Pemerintah Larang Ekspor Bauksit di 2022

Presiden Joko Widodo berhasil menerapkan pelarangan ekspor bijih nikel sesuai dengan aturan di dalam Undang-Undang No.3 tahun 2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara (UU Minerba). UU Minerba tersebut mengatur ekspor mineral yang belum dimurnikan seperti konsentrat dibatasi hanya tiga tahun sejak UU ini berlaku pada 10 Juni 2020.

 

Mulai 2022 Presiden Jokowi pun menerapkan pelarangan ekspor ini pada bahan galian bauksit. Pemberhentian ekspor ini dilakukan agar Indonesia tidak lagi menjual bahan baku mentah. Bahan baku tersebut harus melalui proses pengolahan dan pemurnian di dalam negeri agar bernilai tambah sebelum diekspor.

 

Berdasarkan data Booklet Bauksit 2020 Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), jumlah cadangan bauksit Indonesia mencapai 1,2 miliar ton dari 30,39 miliar ton cadangan bijih bauksit dunia, yakni 4%. Angka ini membuat cadangan bauksit Indonesia berada diperingkat keenam terbesar dunia.

 

Guinea adalah pemilik cadangan bijih bauksit terbesar di dunia yaitu 24%, diikuti oleh Australia yang memiliki 20%. Peringkat ketiga diduduki oleh Vietnam dengan 12% cadangan bauksit dunia, dan Brasil menduduki peringkat empat dengan angka  9%. Kemudian di peringkat kelima ada Jamaika 7%.

 

Corporate Secretary Antam Yulan Kustiyan mengungkapkan, pada prinsipnya Antam akan mematuhi rencana regulasi yang ditetapkan pemerintah. Antam sudah menyiapkan segala strategi saat ekspor bauksit mulai dilarang.

 

“Antam pastinya akan memperkuat portofolio bisnis perusahaan dengan potensi dan sumber daya yang dimiliki, dan saat ini Antam sedang menjajaki beberapa potensi peluang bisnis dari hulu ke hilir untuk komoditas nikel terutama emas dan bauksit,” kata Yulan.

 

Sebelumnya, Direktur Operasi dan Transformasi Bisnis PT Aneka Tambang Tbk Riskono mengatakan, penjualan bauksit perusahaan mencapai 910 ribu ton dan produksi bijih bauksit tercatat mencapai 1,37 juta wet metric ton (wmt) hingga September 2021. 

 

Jika dibandingkan periode yang sama tahun 2010, penjualan bauksit selama sembilan bulan 2021 ini turun 4,3% sebesar 951 ribu ton. Sementara produksi bijih bauksit naik 5% dibandingkan periode yang sama tahun 2020 sebesar 1,30 juta wmt.

 

Selain nikel dan bauksit, Presiden juga meminta Indonesia berhenti mengekspor konsentrat tembaga, hingga timah. Menurutnya, ini perlu dilakukan agar negara dan rakyat akan mendapatkan keuntungan lebih besar dibandingkan hanya menjual bahan mentah.


Sumber:

Author: Patrasha Permana

Editor: Mayang Sari