"Aktivitas Penambangan"
Sumber gambar: Unsplash

Minevesting / December, 17th 2021

Prospek Cerah Investasi Pertambangan Indonesia

Pertambangan mulai dilirik sebagai salah satu sektor pilihan investasi karena menawarkan imbal hasil yang menjanjikan jika dilakukan sesuai dengan tren pergerakan sahamnya. Berdasarkan pernyataan dari CIO Star Asset Management, Arinda Krisnawan, sektor pertambangan memiliki prospek yang cerah pada tahun 2021. Banjirnya likuiditas global dan tren pelemahan USD menyebabkan kenaikan harga komoditas tambang. 

Sektor pertambangan indonesia diperkirakan akan menarik investasi senilai 21,28 miliar USD atau sekitar Rp 303,872 Triliun. Hal ini dikarenakan, jumlah cadangan dan produksi komoditas mineral Indonesia masuk 10 besar dunia. Belum lagi saat ini telah ada 19 unit smelter yang telah beroperasi di Indonesia dan 13 di antaranya adalah smelter nikel. Berdasarkan United States Geological Survey (USGS), cadangan nikel Indonesia adalah nomor satu dunia (23% cadangan nikel dunia).

Masifnya pengembangan kendaraan listrik di seluruh dunia menandakan akan naiknya demand nikel. Penjualan kendaraan listrik di dunia akan meningkat, dari semula 2,4 juta unit mobil pada 2020 menjadi 3,6 juta unit pada 2022 menurut perkiraan Bloomberg New Energy Finance (NEF). Jumlah ini diprediksi akan terus meningkat menjadi 64,0 juta mobil pada akhir 2024. Komoditas nikel diuntungkan oleh adanya kombinasi pengeluaran infrastruktur yang lebih tinggi di negara-negara besar untuk meningkatkan ekonomi mereka serta adanya transisi ke energi hijau.

Selain nikel, Indonesia juga menempati posisi 7 untuk cadangan tembaga dan posisi 12 produksi tembaga dunia. Komoditi emas juga memiliki posisi yang tidak kalah unggul yaitu, 5 pada potensi dan 6 pada produksi. Selanjutnya untuk produksi timah Indonesia memiliki hingga 17% dari cadangan dunia atau berada pada posisi kedua, begitu juga dengan produksinya.

 Menteri ESDM, Arifin Tasrif, mengungkapkan bahwa komoditas-komoditas Logam Tanah Jarang dan Lithium juga memiliki potensi yang sangat besar, hanya saja Indonesia belum memiliki teknologi untuk memisahkan dan memurnikannya.

“Demikian juga dengan komoditas lainnya, antara lain bauksit, besi, tembaga, mangan, timbal, dan seng. Nanti diperkirakan akan menarik investasi sebesar 21,28 miliar USD” ujar Arifin.


Sumber:

Author: Patrasha Permana

Editor: Mayang Sari